PPI Inisiatif Program Pengentasan Stunting NTB 2

PPI Gagas Program Berantas Stunting di Timur Indonesia

PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI berinisiasi untuk melaksanakan program penurunan prevalensi stunting, di Nusa Tenggara Barat. PPI menyalurkan bantuan berupa telur, biskuit bayi, kacang hijau, daging ayam, daging sapi, dan beras, untuk entaskan stunting pada (8/10) lalu.

Langkah ini tentu sejalan dengan mempersiapkan generasi emas 2045 di masa yang akan datang. Tetapi langkah tersebut tidaklah mudah, pasalnya stunting masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak-anak di Indonesia. Hal tersebut menjadi permasalahan yang masih terus bermunculan terutama di situasi pandemi Covid-19.

Bantuan tersebut akan rutin disalurkan PPI setiap bulan selama satu tahun agar dapat melihat dan mengukur sejauh mana perkembangan keberhasilan program ini untuk menurunkan angka stunting, khususnya di Lombok Barat. Pemilihan pelaksanaan penyaluran yang berlokasi di NTB ini berdasarkan pada prevalensi stunting di daerah tersebut yang termasuk tinggi.

“Ini adalah bentuk kontribusi nyata PPI untuk kesehatan Indonesia. Sebagai bagian dari BUMN Klaster Pangan, PPI mendukung perbaikan gizi demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.” ujar Syailendra, Kepala Sekretariat Perusahaan PPI.

PPI memahami bahwa anak-anak adalah potensi masa depan keluarga dan masyarakat sehingga dapat menjadi sebuah kekuatan baru bagi generasi penerus di masa mendatang. Berdasarkan data, angka prevalensi stunting di tahun 2019 masih sekitar 27 persen meskipun sudah menurun dibanding 37 persen pada tahun 2013. 

Namun demikian, presiden mencanangkan penurunan prevalensi stunting di angka 14 persen pada tahun 2024. NTB menjadi salah satu wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi. Oleh karenanya, PPI berupaya membantu pemerintah untuk pengentasan stunting di daerah tersebut, khususnya selaku BUMN sebagai agen pembangunan bagi pemerintah untuk memberikan sumbangsih bagi negeri. 

Apalagi saat ini, perjuangan mengatasi stunting merupakan prioritas pembangunan pada tingkat nasional, provinsi sampai pada tingkat kabupaten. Program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal – SDG) nomor 2 yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai keamanan pangan, dan meningkatkan gizi dan mempromosikan pertanian berkelanjutan.

PPI Inisiatif Program Pengentasan Stunting NTB

Tahun depan, program ini akan dilanjutkan dengan penyaluran bantuan TJSL (tanggung jawab sosial dan lingkungan) untuk ibu hamil dan ibu menyusui. Hal ini juga merupakan TJSL unggulan yang dimiliki oleh PPI itu sendiri.

“Tentunya dengan dukungan dinas kesehatan, kecamatan, hingga ke perangkat desa serta peran para kader kesehatan setempat, PPI berharap program ini dapat berjalan lancar dan memberikan hasil yang optimal sehingga dapat dijadikan acuan untuk pengembangan program yang sama di wilayah NTB.” Kata Prio Pamulat, Asisten Manajer PKBL PPI. 

Pada program ini, PPI Cabang Mataram terlibat aktif dalam penyediaan bantuan dan koordinasi dengan banyak pihak. Program penurunan angka stunting ini, masih terus didorong implementasinya dengan maksimal sehingga diharapkan implementasi juga bisa lebih baik lagi kedepannya.

“PPI sangat peduli pada kesehatan masyarakat Indonesia. Di tengah pandemi Covid-19, kami mendorong seluruh pihak untuk menjaga kesehatan keluarga. Harapan kami, masyarakat Indonesia tetap sehat dan tumbuh di tengah pandemi.”  ujar Prio.

Dengan dukungan dari PPI selaku BUMN, tentu seluruh pihak berharap kelak para bayi dan balita dapat tumbuh dengan baik dan dapat bermanfaat bagi generasi ke depan masyarakat di Lombok Barat secara khusus, dan NTB secara luas.

Kepala Puskesmas Labuapi Lombok Barat, Rohayati, mengucapkan terima kasih kepada PPI yang telah memilih Lombok Barat, khususnya Labuapi sebagai lokasi, dalam pelaksanaan program stunting tersebut.

“Perhatian penuh kepada anak-anak merupakan kewajiban orang tua, seperti perhatian kepada kesehatan mereka secara langsung, termasuk di dalamnya pemenuhan gizi agar pertumbuhan anak menjadi baik,” kata Rohayati. 

Harapan masyarakat juga agar semua anak-anak tetap sehat, karena apabila anak memiliki masalah gizi, dapat menyebabkan anak sering sakit. Semoga program terus berlanjut dan semua mendapatkan manfaat dari program ini. Berbagai stakeholders akan terus memantau pertumbuhan anak-anak, terutama yang mendapatkan bantuan agar terpantau perkembangannya di masa yang akan datang.

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Artikel Terkait

Berlangganan Sekarang Juga!

Dapatkan informasi BUMN terbaru langsung ke email anda.