Kisah Yanti Lidiati Berdayakan Ibu-ibu Desa Lampegan, Anak Punk, dan Disabilitas dari Bantuan PGE

Yanti Lidiati (55) adalah kepala human resource development sebuah perusahaan farmasi terbesar di Jakarta sebelum memutuskan kembali ke Desa Lampegan, Kabupaten Bandung untuk merawat ibunya yang sakit tahun 2011. Di sinilah awal inisiatifnya untuk mengajar menjahit kepada beberapa kalangan dan mendapatkan bantuan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Yanti tak hanya berhasil mengembangkan potensi wanita di desanya, tapi juga membina anak punk dan anak disabilitas.

Dulu, sebagian besar ibu-ibu di Desa Lampegan, Kecamatan Ibun menolak gagasan Yanti karena tidak percaya diri dan tidak yakin produk yang dihasilkan bisa laku. Namun, pada 2016, Yanti membentuk kelompok Wanita Mandiri dengan anggota tujuh orang. Pelan-pelan dia membimbing para ibu untuk memulai usaha menjahit. Mereka membuat blazer dengan bahan sarung premium yang diberi merek It’s Blazer Ibun. “Desainnya saya yang buat, ibu-ibu itu yang mengerjakan,” kata Yanti.

Usaha tersebut berhasil menambah penghasilan mereka dan menarik lebih banyak warga untuk bergabung di Wanita Mandiri hingga beranggota hampir 50 orang.

Adapun syarat yang harus dipenuhi adalah harus mau mengejar pendidikan paket B dan C (setara SMP dan SMA) mengingat mayoritas ibu yang tinggal di Desa Lampegan hanya berpendidikan SD. “Kalau mereka bersedia ambil paket B atau C, saya berjanji mendampingi wirausahanya,” ucap Yanti Lidiati.

Aktivitas Wanita Mandiri menarik perhatian PT PGE Area Kamojang. PGE lantas memberikan bantuan berupa mesin jahit agar produktivitas mereka meningkat. Corporate Secretary PGE, Muhammad Baron, mengatakan korporasinya juga berupaya mengembangkan kemampuan Wanita Mandiri. 

“Caranya dengan mengadakan pelatihan pengelolaan kewirausahaan, pelatihan marketing, peningkatan kapasitas, dan mendukung promosi produk Wanita Mandiri dengan mengadakan pameran,” kata Baron.

Selama hampir 5 tahun berdiri, Wanita Mandiri telah mengikuti sekitar 30 pameran, baik nasional maupun internasional. 

Wanita Mandiri memperluas bidang usahanya ke sektor kuliner dan kerajinan tangan, contohnya keripik dan kue bolen. PGE pun kembali memberikan bantuan berupa peralatan pendukung kepada setiap anggota Wanita Mandiri, sesuai dengan produk yang dihasilkan. “Bantuan dari PGE membuat produktivitas ibu-ibu meningkat,” ucap Yanti.

PGE Area Kamojang pada 2004 juga ikut mendukung kegiatan kejar paket A, B, dan C di Yayasan Pendidikan An Nur yang didirikan oleh Tjitjih Rukarsih, ibunda Yanti.

Kendati Tjitjih telah wafat 16 Agustus lalu, Yanti Lidiati tak berniat kembali ke Jakarta. Ia berharap pandemi segera berakhir, mengingat pertemuan online kurang efektif untuk mengajar menjahit.

Yanti Lidiati Bina Anak Punk Melalui Program Wani Robah

Bermula dari obrolan dengan anak punk di Alun-alun Majalaya, Yanti berinisiatif membina mereka. Dimulai dari Ayu, salah satu dari anak punk, yang minta diajarkan menjahit. “Saya sangat terharu. Mereka punya harapan dan masa depan,” katanya. 

Lama-kelamaan, anak punk yang dibina Yanti bertambah hingga 25 orang dan lebih dari separuhnya terbilang aktif. 

Mereka kerap berkumpul di gazebo yang dibangun atas bantuan PGE. Yanti membuat program Wani Robah, khusus membina anak punk. Menurut Yanti, sejumlah anak punk mulai rajin beribadah meski dulu enggan masuk masjid karena sebagian tubuh dipenuhi tato.

SEHATI: Terapi Eduplay, PGE bersama Yanti Lidiati untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Sejak tahun 2016 PGE mengembangkan program SEHATI: Terapi Eduplay untuk Anak Berkebutuhan Khusus atau anak istimewa di Kecamatan Ibun. 

Sebagai bentuk pengembangan program, PGE bekerja sama dengan Yanti Lidiati selaku motivator sekaligus pendamping parenting untuk para orang tua ABK. 

Bersama terapis dari alumni Pendidikan Luar Biasa Universitas Pendidikan Indonesia, Yanti dan kader kesehatan desa membantu orang tua memberikan terapi untuk anak-anak mereka. 

“Anak ABK banyak yang membutuhkan terapi. Selama ini dibantu PGE. Namun, saya ingin para ibu belajar terapi dari terapis. Ini merupakan salah satu cara untuk membuat mereka mandiri. Para ibu bisa kapan pun memberi terapi ke anak mereka tanpa perlu membayar,” katanya. 

Ia menekankan pada perubahan mindset para orang tua penyandang disabilitas, yakni tidak menganggap anak-anak mereka sebagai beban. Yanti menyatakan anak-anak itu istimewa dan bisa diajarkan berbagai keterampilan. 

Yanti Lidiati selalu mencari cara agar bantuan CSR PGE berlanjut, berkembang, dan berdampak luas ke masyarakat di sekitar.   

Pandemi Covid-19 ikut mempengaruhi aktivitas yang dibina Yanti. Namun, dia tak putus asa. Setiap Minggu pagi, Yanti melanjutkan program Beyond SEHATI: Terapi Eduplay. Bersama anak-anak istimewa dan orang tuanya, Yanti bermain, bernyanyi, dan menari. 

Ia pun bertekad melanjutkan program tersebut dengan nama Kelompok Bermain Berdaya, yang berarti “berbeda tetap berkarya”. Ia melakukan kegiatan kreatif, seperti membaca, menulis, merangkai bunga, dan bermain bersama untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. 

Yanti bersyukur bisa mendapat bantuan dari PGE. “PGE selama ini bisa menerima masukan untuk program sesuai kebutuhan masyarakat. Di sini, ada kebutuhan untuk kemandirian perempuan, anak punk, dan disabilitas,” katanya.

Dukungan yang dilakukan PGE terhadap Yanti Lidiati merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam Environment, Social, and Governance (ESG). ESG menjadi faktor utama untuk mengukur tingkat keberlanjutan dan dampak sosial dari investasi yang sudah dilakukan perusahaan. Tidak hanya itu, penerapan ESG, khususnya dari sisi environmental (lingkungan), merupakan wujud dukungan atas penerapan green economic.

“Selain itu, bila kemandirian perempuan di kelompok Wanita Mandiri kuat, maka diharapkan dapat menimbulkan multiplier effect, seperti adanya lapangan kerja sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini selaras dengan poin 8 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG), yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, program-program CSR PGE juga mencakup poin 4 (pendidikan berkualitas) dan poin 5 (kesetaraan gender),” pungkas Baron.

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Artikel Terkait

Berlangganan Sekarang Juga!

Dapatkan informasi BUMN terbaru langsung ke email anda.