MENU
LAPOR HOAX

Sejarah Perkeretaapian di Indonesia, dari DKARI hingga KAI

22 Juni 2022

Sejarah Perkeretaapian di Indonesia, dari DKARI hingga KAI

Kabar BUMN - Keberadaan kereta api di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sistem Cultuurstelsel yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda. Namun berkat kegigihan banyak pihak, akhirnya kereta api di Indonesia terus berkembang hingga kini menjadi salah satu moda transportasi andalan.

Sebagai salah satu moda transportasi andalan, kereta api punya sejarah panjang di Indonesia. Sejarah perkeretaapian ini dimulai sejak masa Hindia Belanda, atau tepatnya pada abad ke-19.

Saat itu pemerintah Hindia Belanda sedang menjalankan sistem tanam paksa yang biasa disebut dengan Cultuurstelsel. Keberadaan sistem ini memaksa rakyat untuk menanam tanaman yang disukai oleh orang Eropa.

Nah, untuk mengekspor tanaman yang disukai pasar internasional tersebut, sarana transportasi jalan raya dirasa kurang memadai. Alhasil pemerintah Hindia Belanda mulai mengadakan pembangunan jalur kereta api.

Pembangunan ini dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta). Dalam praktiknya, pembangunan dilakukan oleh perusahaan swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), yang dipimpin oleh Ir. J.P. de Bordes.

Meskipun rencana pengadaan kereta api ini merupakan salah satu ide yang brilian, namun realisasinya dipenuhi dengan tantangan. Beberapa masalah yang muncul selama pembangunan jalur kereta api di zaman Hindia Belanda adalah sulitnya medan pembangunan dan masalah keuangan.

Setelah melewati berbagai masalah berat, akhirnya pada 10 Agustus 1867, pemerintah Hindia Belanda berhasil membuka jalur kereta api pertama. Keberadaan ruas jalan ini secara resmi menjadikan Indonesia (yang dulunya Hindia Belanda) menjadi negara ke-2 di Asia yang memiliki jaringan kereta api tertua.

Selain di Jawa, pembangunan jalur kereta api juga dilakukan di Aceh (1876), Sumatera Utara (1889), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan Sulawesi (1922).

Sejarah Kereta Api Pasca Kemerdekaan

Pasca proklamasi kemerdekaan, rakyat Indonesia melakukan akuisisi stasiun dan kantor pusat kereta api yang sebelumnya telah dikuasai Jepang. Perebutan kembali perkeretaapian ini sampai di puncaknya pada tanggal 28 September 1945, atau yang kini diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia.

Pada tanggal tersebut sekaligus menandai berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI). Setelah sempat dikuasai Belanda kembali selama beberapa saat, dibentuklah lagi Djawatan Kereta Api (DKA) pada 1950.

Kemudian, DKA beralih nama menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), yang berlambang Wahana Daya Pertiwi. Demi kepuasaan pelayanan, pemerintah mengubah struktur PNKA menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada 1971.

Seiring berjalannya waktu, PJKA juga berubah bentuk menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka). Barulah pada 2011 silam, Perumka berganti nama kembali menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero), atau yang kini dikenal dengan PT KAI.