menara siger bakauheni harbor city

Siap Jadi Kawasan Wisata Kelas Dunia, Bakauheni Harbour City Mulai Dibangun Tahun Ini

Kawasan Bakauheni, Lampung, kali ini menjadi incaran untuk meningkatkan pariwisata nasional dengan dibangunnya Bakauheni Harbour City, sebuah destinasi wisata terpadu berskala internasional. PT ASDP Indonesia (Persero) siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk mulai membangun Bakauheni Harbour City tahun ini.

Pembangunan kawasan wisata ini juga telah mendapat dukungan dari Pemprov Lampung, Kementerian BUMN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian PUPR. 

Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi juga mengatakan bahwa pihaknya dan seluruh stakeholder terkait megaproyek Bakauheni Harbour City ingin menjadikan Bakauheni sebagai destinasi wisata unggulan di Lampung, serta menjadi pilihan utama masyarakat Jakarta dan Sumatera untuk berwisata. Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi yang digelar Selasa (26/1) malam. 

Bersama dengan Hutama Karya, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) serta Pemprov Lampung, PT ASDP kini tengah menyelesaikan visioning masterplan pengembangan kawasan pariwisata Bakauheni.

Kawasan wisata ini nantinya diharapkan akan menjadi salah satu penggerak utama perekonomian di sektor pariwisata masa depan, seperti disampaikan Ira Puspadewi, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).

Masterplan ditargetkan selesai dalam waktu dekat, tentu keterlibatan seluruh pihak sangat penting dalam terwujudnya megaproyek ini dalam mengolah potensi Bakauheni yang sangat besar menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan di Sumatera,” tutur Ira.

Salah satu yang menjadi zona wisata unggulan di Bakauheni Harbour City adalah Menara Siger yang mengusung sektor budaya dan pendidikan. Nantinya, menara ini akan terintegrasi dengan Masjid Bakauheni yang berkapasitas 2.600 jamaah. Selain Menara Siger dan Masjid Bakauheni, di lahan seluas 3,8 hektare ini juga akan dibangun museum kontemporer, restaurant, sky bridge, toko souvenir, dan fasilitas parkir yang besar.

Selain itu, akan dibangun juga Intermoda Terminal, Marina Village, Bakauheni Harbour Park dan Mangrove Forest yang dilengkapi dengan fasilitas hotel berbintang, villa, dan taman bermain. Dengan luas total 214 hektare, kawasan wisata terpadu ini diperkirakan akan menjadi kawasan wisata tepi laut terbesar berkelas dunia yang berada di Sumatera.

“Dengan hadirnya Bakauheni Harbour City ini, kami targetkan kawasan Bakauheni dapat menjadi destinasi pariwisata berskala internasional. Bakauheni bukan hanya sebagai pelabuhan penyeberangan, tetapi juga menjadi lokasi wisata baru dan menjadi favorit wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman),” tambah Ira.

Pembangunan megaproyek Bakauheni Harbour Center ini juga mendapat dukungan yang sangat besar dari pemerintah, terutama dari Kementerian PUPR sebagai pihak yang paling berperan dalam pembangunan infrastruktur. Menteri PUPR Basuki Hadimulyono dalam kunjungan kerjanya di Lampung pada (25/1) juga berkesempatan mengunjungi lahan Bakauheni Harbour City. Menteri Basuki mengatakan, Bakauheni memiliki potensi yang sangat bagus dalam pengembangan pariwisata ini. 

Data statistik wisatawan nusantara menyebutkan pada tahun 2010-2019 pertumbuhan kunjungan wisatawan nasional ke Lampung rata-rata mencapai 21,6 persen, sedangkan wisatawan mancanegara mencapai 21,5 persen dengan proporsi wisatawan nusantara sebesar 98 persen dari total seluruh wisatawan.

Selain itu, Lampung juga menduduki urutan ke 11 dengan tujuan wisatawan nusantara 2,4 persen dari total perjalanan wisatawan nusantara di Indonesia. Berdasarkan data tersebut, terbukti bahwa Lampung memiliki daya tarik bagi wisatawan nusantara.

Posisi Bakauheni sebagai lokasi penyeberangan juga menjadi salah satu alasan kawasan ini dilirik oleh wisatawan nusantara maupun mancanegara, seperti diungkapkan oleh Ira Puspadewi. “Bahkan, jika melihat data penyeberangan ASDP, dari total 49 juta yang dilayani di seluruh Indonesia, lintasan Merak-Bakauheni sendiri berkontribusi sebesar 42,2 persen atau sekitar 20,7 juta penumpang yang menyeberangi Jawa-Sumatera setiap tahunnya. Sehingga, ada potensi yang sangat besar di sini, utamanya dalam pengembangan sektor pariwisata,” tutur Ira lagi. 

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Artikel Terkait

Berlangganan Sekarang Juga!

Dapatkan informasi BUMN terbaru langsung ke email anda.